Mamamama

Loading...

Mamamama

Register

Articles - September 18, 2023

Tahapan Perkembangan Emosi pada Anak


Kita akan bahas hal penting: Tahapan Perkembangan Emosi pada Anak. 🌟 Mari kita lihat tiga tahapan kritis perkembangan emosi agar kita siap membantu anak-anak yang kita sayangi.

1. Memperhatikan Emosi: Lahir hingga Usia Satu Tahun

Ada banyak teori tentang bagaimana emosi berkembang dan berfungsi. Beberapa berpendapat bahwa kita lahir hanya dengan tiga emosi: kebahagiaan, kemarahan, dan ketakutan. Ada juga yang percaya bahwa bayi mampu merasakan beragam emosi sejak lahir. Kita tidak bisa tahu pasti karena mereka belum bisa berbicara, tetapi melalui tangisan dan bicara, bayi benar-benar menyampaikan sesuatu. Pada tahap ini, seorang bayi sedang menjelajahi dunia—hal-hal baik seperti didekati dengan kasih sayang, dan hal-hal buruk seperti popok penuh. Mereka mulai memperhatikan bagaimana segala hal memengaruhi perasaan mereka.

Cara Mendorong Pertumbuhan pada Tahap Ini

Buat lingkungan yang aman dan konsisten. Ini adalah landasan dari mana anak-anak dapat merasa cukup percaya diri untuk menjelajahi dan mengungkapkan diri. Saat mereka tahu bahwa Anda akan selalu ada untuk mereka, mereka lebih cenderung mengambil risiko yang diperlukan untuk perkembangan mereka.

Adina Mahalli, spesialis perawatan keluarga dari Maple Holistics, percaya bahwa untuk menciptakan lingkungan ini, membangun hubungan yang sehat adalah hal yang paling utama.

“Anak-anak lahir dengan kebutuhan dan keinginan untuk terhubung dengan orang di sekitar mereka,” kata Mahalli. “Ketika para pengasuh membentuk hubungan positif dengan anak-anak selama tahun-tahun awal, anak-anak merasa aman dan nyaman, membentuk dasar bagi perkembangan sosial dan emosional yang sehat.”

Dorong mereka untuk menenangkan diri. Meskipun beberapa orang cenderung melarang perilaku seperti menghisap jempol, hal ini membantu anak-anak menenangkan diri dan adalah langkah pertama dalam mengatur emosi. Kadang sulit untuk tidak campur tangan dan memecahkan masalah, tetapi jika Anda ingin anak mampu mengelola emosinya nanti, penting untuk memberi mereka kesempatan untuk mencari solusi sendiri.

Tunjukkan emosi Anda. Tidak peduli pada tahap apa, anak-anak mencerminkan perawat mereka. Dengan mencocokkan ekspresi wajah anak dan mengungkapkan perasaan Anda, Anda dapat membantu anak memperhatikan baik emosi mereka maupun emosi Anda. Ini juga akan membantu Anda menjadi contoh peran emosional.

Kate Tunstall, pencipta situs gaya hidup dan orangtua The Less-Refined Mind, berpendapat bahwa tindakan-tindakan kecil ini dapat memiliki dampak signifikan. “Pengaruh terbesar pada perilaku anak-anak dari segala usia adalah bagaimana kita sebagai orangtua merespons emosi besar. Anak-anak kita akan meniru kita, jadi cara paling kritis untuk membantu mereka mengatur emosi dan respons adalah dengan memodelkan perilaku yang diinginkan.”

2. Mengungkapkan Emosi: Usia Dua hingga Tiga Tahun

Ketika anak-anak mengembangkan kosa kata dan semakin mandiri, mereka akan bereksperimen dengan cara baru untuk mengekspresikan emosi. Sebagian akan produktif seperti menggambar dan menceritakan gambar monster menakutkan di bawah tempat tidur. Sebagian akan lebih seperti tantrum di toko bahan makanan karena tidak bisa mendapatkan keripik keju. Ini bisa menjadi tahap yang sangat sulit bagi orang dewasa karena anak-anak mengalami emosi kompleks namun belum tahu cara mengekspresikannya secara sehat.

Cara Mendorong Pertumbuhan pada Tahap Ini

Tetap tenang saat mereka tidak tenang. Tantrum akan terjadi. Ini adalah bagian normal dari perkembangan. Ketika perasaan seorang balita melampaui kemampuannya untuk mengungkapkannya, mereka akan melakukannya dengan satu-satunya cara yang mereka tahu. Tugas Anda adalah membantu mereka menemukan cara yang lebih baik, dan Anda tidak bisa melakukannya jika Anda menyerah pada tantrum atau ikut marah.

Dr. Fran Walfish, terapis keluarga dan hubungan, menyarankan untuk mengarahkan kemarahan atau frustrasi anak Anda dengan “kejelasan, kebaikan, empati, dan ketegasan.” Hal pertama yang harus diingat adalah bahwa—sekecil apa pun kelihatannya—seorang anak selalu berhak atas emosinya. Alih-alih menunjukkan seberapa tidak masuk akalnya marah saat Anda sudah memperingatkan mereka bahwa waktunya menggunakan layar akan berakhir, validasi mengapa mereka marah.

“Berempati terhadap anak Anda tentang seberapa sulit momen ini baginya,” saran Dr. Walfish. Pendekatan ini, bersama dengan pujian atas penyelesaian tugas-tugas (relatif) sulit yang telah membuat mereka kesal, adalah model untuk membantu anak-anak memahami bahwa frustrasi terjadi, tetapi yang paling penting adalah bagaimana Anda menanganinya.

Beri mereka kata-kata untuk menyebut dan menjelaskan emosi. Alternatif terbaik untuk tantrum adalah dengan bisa mengekspresikan emosi melalui kata-kata. Jika seorang anak dapat mengatakan, “Saya marah,” atau bahkan lebih baik “Saya marah karena dia mengambil mainanku,” mereka bisa fokus untuk mengutarakan perasaan mereka dengan kata-kata daripada merajuk. Ini, pada gilirannya, dapat membantu mereka merasa lebih dalam kontrol atas emosi mereka.

Salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak memahami tentang emosi adalah melalui cerita. Ini tidak hanya memberikan kosa kata emosi tetapi juga menempatkannya dalam konteks kreatif. Melissa Hart, orang tua dan penulis, menawarkan beberapa saran bermanfaat. “Banyak pendidik dan orangtua menggunakan buku untuk memajukan perkembangan emosional pada anak-anak. Ada

 buku-buku gambar yang bagus seperti When Sadness Is at Your Door, Odd Dog Out, dan Be Who You Are yang memancing percakapan tentang emosi dan memberi anak-anak kata-kata untuk mengungkapkan perasaan mereka.”

Memberikan penguatan positif. Tentu ada waktu untuk mengatakan “Tidak,” “Jangan,” dan “Berhenti,” tetapi jika itu adalah satu-satunya kata yang Anda gunakan, kata-kata tersebut dapat dengan cepat kehilangan kekuatan. Rayakan cara-cara kecil anak-anak membuat kemajuan. Dengan menunjukkan kapan mereka menggunakan kata-kata atau tindakan mereka untuk menyatakan diri dengan positif alih-alih teriakan dan tendangan, Anda dapat membangun kepercayaan diri mereka dan mendorong mereka untuk tumbuh.

3. Mengelola Emosi: Usia Tiga hingga Lima Tahun

Pada tahap ini, anak-anak siap untuk masuk ke taman kanak-kanak. Lingkungan sosial baru dan lebih mandiri memberikan kesempatan besar untuk pertumbuhan namun juga menimbulkan beberapa tantangan baru. Berbagi, mendengarkan, dan bermain bersama dapat menimbulkan gesekan antar anak, dan karena mereka tidak selalu dapat mengandalkan orangtua mereka sepanjang waktu, mereka harus mengembangkan keterampilan penanganan baru untuk dapat berdiri sendiri. Pengasuh taman kanak-kanak memainkan peran penting dalam perkembangan ini dengan menciptakan ruang aman dan memberikan bimbingan.

Cara Mendorong Pertumbuhan pada Tahap Ini

Beri mereka strategi. Seperti bayi menghisap jari mereka atau merangkul selimut mereka, anak usia taman menggunakan cara konkret untuk mengatasi emosi abstrak mereka. Pergi ke tempat yang tenang, bernapas dengan dalam, dan mewarnai adalah contoh-contoh strategi yang baik. Tujuannya adalah membantu anak-anak memahami apa yang bekerja untuk mereka. Apakah mereka perlu sendirian, berbicara, atau teralihkan sebelum mereka dapat memproses perasaan mereka? Melakukan ini sebelum seorang anak kesal dapat membantu mereka dalam mempengaruhi perilaku mereka saat mereka merasa kesal.

Laura Morlok, konselor profesional klinis berlisensi dari Playful Therapy Connections, juga menyarankan untuk mendemonstrasikan strategi-strategi ini sendiri. “Anda dapat mendukung anak Anda dalam mengelola emosinya dengan memodelkan strategi penanganan dan kemudian berlatih bersama-sama. ‘Saya merasa marah karena mangkuk jatuh dan pecah. Saya pikir saya perlu mengambil napas dalam-dalam. Bisakah kamu bernapas dalam-dalam bersamaku?’” Ini dapat membantu anak memahami lebih baik bagaimana dan kapan menerapkan strategi penanganan.

Miliki ekspektasi yang realistis. Jika Anda mengharapkan terlalu banyak dari seorang anak, Anda akan kecewa dan frustrasi. Terlalu banyak dari hal ini dapat membuat anak mulai mengasosiasikan rasa malu dan kecemasan dengan emosi mereka—sesuatu yang dapat merugikan perkembangan masa depan mereka. Di sisi lain, jika Anda mengharapkan terlalu sedikit, seorang anak mungkin akan belajar perilaku yang tidak sehat daripada mengembangkan keterampilan yang efektif. Inilah sebabnya mengapa penting untuk menyadari tahapan emosi yang berbeda. Jika Anda tahu bahwa anak usia dua tahun akan marah, jauh lebih mudah untuk berempati dengan mereka dan membantu mereka melangkah ke depan dalam memproses apa yang telah membuat mereka kesal.

Evan Porter, pencipta blog parenting Dad Fixes Everything, mengakui bahwa orangtuaannya sendiri mendapat manfaat dari memahami apa yang normal bagi putrinya. “Mungkin salah satu hal terbesar yang saya pelajari adalah bahwa dia membutuhkan banyak ruang untuk mengalami dan bekerja melalui perasaannya. Sulit bagi saya, karena saya suka memperbaiki dan ingin membuatnya merasa lebih baik ketika dia sedang kesal, tetapi tidak ada cara untuk memperpendek prosesnya. Dia harus melalui perasaan dan air matanya sebelum kita bisa melakukan percakapan konstruktif tentang apa yang terjadi dan bagaimana cara menanganinya lebih baik lain kali, dan terkadang itu membutuhkan waktu.”

Validasi. Validasi. Validasi. Agar seorang anak tahu bahwa suatu emosi dapat diatasi, mereka harus pertama-tama tahu bahwa itu adalah hal yang normal. Jika mereka merasa seperti hanya mereka yang mengalami frustrasi, mereka lebih cenderung percaya bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Katakanlah hal-hal seperti, “Ini sangat membuat frustrasi. Saya juga akan merasa frustrasi.” Anda bisa menunjukkan kepada mereka bahwa merasa frustrasi tidak buruk sambil juga membuat pengalaman mereka menjadi normal. Validasi ini kunci untuk membangun kepercayaan diri dan respons sehat terhadap emosi.

Suka, bagikan, dan komentar di bawah jika kamu merasa ini bermanfaat. Mari sebarkan pengetahuan dan saling mendukung dalam memahami perkembangan emosional pada si kecil. 💖 #PerkembanganEmosi #TipsOrangTua #PerkembanganAnak 🌟

Sumber:

https://www.rasmussen.edu/degrees/education/blog/stages-of-emotional-development/